Aku dan Keluarga Tertolong, BPJS Kesehatan Pilihanku

Aku dan Keluarga Tertolong, BPJS Kesehatan Pilihanku

PEKANBARU – Perkenankan aku menulis kisah nyata ini dengan gaya tulisan bertutur apa adanya selama aku bersama anak istriku menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di Kota Pekanbaru, Riau.

Aku adalah mantan karyawan perusahaan tambang minyak di Indonesia. Sejak resign tahun 2002 hingga mendengar ada program JKN-KIS program Pemerintah di tahun 2014, aku langsung mendaftar menjadi peserta JKN-KIS dengan pilihan hak kelas 1. Kupikir saat itu, dengan keluarga besar tujuh anak ini ditambah istri, ke mana biaya akan dicari atau ditanggung dengan sisa jaminan purnabhakti deposito dan usaha bila Tuhan memberikan ujian pada kami.

Hingga awal bulan puasa yang lalu, sudah dua bulan aku merasakan sakit lambung atau maag karena setiap makan nasi perut menolak dan berat badan pun turun 15 kilogram dari 55 kilogram tinggal dibalut kulit kenyal dan tebal tampak tulang. Semua teman sahabat relasi rekan kerja dan keluarga melihat fotoku di media sosial dan bila saat berjumpa, mereka berkata,

“Kasihan bapak Adimir. Semoga cepat sembuh,”

Istriku pun ikut prihatin dan dengan lembut membujukku ke rumah sakit Ibnu Sina untuk memeriksakan diri.

Singkatnya, ketika di ruang dr. Edward Darmansyah, dokter ahli penyakit dalam melalui diagnosanya menyatakan bahwa aku mengidap penyakit gagal ginjal akut (GGA) dan sudah stadium 4. Dengan hasil ultrasonografi (USG) yang masih terlihat normal, satu-satunnya pengobatan adalah dengan rutin cuci darah/ haemodialisa (HD).

Istriku yang mendengar penyakitku terlihat terpaku sedih menatapku menitik air matanya sambil memohon bertanya kepada dr. Edward bagaimana solusi untuk mengobati penyakitku, suaminya ini. Dokter pun dengan sabar penuh kelembutan dan welas asih menjelaskan setiap pertanyaan yang dilontarkan istriku. Kesimpulannya, mencari donor atau HD dua kali sepekan.

Tanpa pikir panjang istriku mengorbankan deposito dan apapun untuk persiapan pengobatan di luar negeri dan pilihan kami jatuh ke Melaka, Malaysia.

Istriku membawaku ke ruang klinik dokter ahli ginjal, seorang Chinese setengah baya. Setelah beliau membaca hasil labor USG dan X-Ray, diagnosanya masih sama, yakni ginjal masih terlihat normal namun hasil darah tetap menyimpulkan GGA stadium 4. Sambil bertutur lembut dokter tersebut juga memberikan solusi yang sama, cari donor atau HD.

Dengan Bahasa Mandarin yang diselingi Bahasa Inggris dan Melayu, beliau menambahkan,

“Bile nak cuci darah tak payah di sini, biaya besar. lndonesia Presiden Jokowi, BPJS Kesehatan is good. Berobat di Indonesia saja. Dokter di Indonesia pun banyak bagus,” terangnya sambil tersenyum. Lebih lanjut beliau merujukku ke dokter rekan sejawatnya yang ahli lambung di sebelah ruangannya. Besoknya aku dan istriku menemui dan berkonsultasi dengan dokter ahli lambung tersebut. Sarannya masih sama, berobat saja di Indonesia melalui BPJS Kesehatan.

Sekembalinya ke Pekanbaru kami langsung mengurus dan kembali berobat menggunakan JKN-KIS. Kami tetap dilayani dengan baik, sama seperti beberapa minggu lalu saat berobat dengan status pasien umum.

Ketika berjumpa kembali dengan dr. Edward, tanpa bertanya apakah aku menggunakan KIS atau pasien umum, dokter malah menanyakan siapkah aku untuk HD. Aku dan istri serentak menjawab, “Siap”.

Empat kali HD kemudian dirujuk ke dr. Fuad di Eka Hospital untuk operasi lokal pasang alat transfusi darah (Cimino) di leher.

Puji syukur sebagai peserta JKN-KIS yang lancar membayar iuran setiap bulan masalah berobat benar-benar tak terkendala. Tiada lagi memikirkan beban biaya rumah sakitnya. Tiada iur biaya sepersen pun yang dimintakan oleh pihak rumah sakit. Tak terbayangkan oleh kami jika harus menanggung biaya ini sendiri.

Tiada kata-kaya yang bisa dirangkai sebagai ungkapan syukur masih diberi napas umur panjang oleh Allah SWT. Juga ucapan terima kasih yang tulus kepada dr. Edward Darmansyah bersama perawat dan bagian pelayanan BPJS Kesehatan yang penuh senyuman di Rumah Sakit Ibnu Sina. Tak ketinggalan juga dr. Fuad bersama perawat dan bagian pelayanan BPJS Kesehatan di EKA HOSPITAL. Juga tak lupa dokter-dokter sejati Mahkota Hospital di Melaka yang telah menyarankan menggunakan BPJS Kesehatan.

Akhir kata, inilah kisah nyataku sebagai warga negara yang berbudi dan sudah merasakan langsung manfaat dari program Pak Presiden, Menteri Kesehatan dan BPJS Kesehatan. Perkenankan mengakhiri tulisan kisah nyata ini dengan mengucapkan Terima kasih Indonesia Sehat, Adil, Aman, Sejahtera!! (Rls/Fer)

Narasumber : H. Adimir A. Baluka,SE

Previous Usai Teken MoU Rektor IPDN Kuliah Umum dengan Mahasiswa Fisipol UIR
Next Satlantas Polres Meranti Gelar Sosialisasi Dikmas Lantas dan Deklarasi Anti Unjuk Rasa Anarkis

You might also like

Pekanbaru

Bakti Sosial Pemeriksaan dan Pengobatan Dalam Rangka HUT Eka Hospital Pekanbaru Ke-10

PEKANBARU – Pada tahun 2018 ini, telah satu dekade Eka Hospital Pekanbaru melayani masyarakat bukan saja Pekanbaru tetapi juga masyarakat Riau pada umumnya hingga ke provinsi tetangga seperti Sumatera Barat,

Pekanbaru

Kemas Meranti memeriahkan kenduri Seni Rakyat Riau 2019

PEKANBARU – Komunitas seni muda (KEMAS) meranti tampil mewakili kabupaten kepulauan Meranti dalam acara kenduri seni rakyat Riau 2019, Rabu (10/7/2019) Malam di taman budaya Provinsi Riau. Kemas meranti yang

Pekanbaru

Bupati Harris Hadiri Peresmian Kantor Kejati Riau

PELALAWAN – Bupati Pelalawan H.M.Harris menghadiri peresmian Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau di Pekanbaru, Kamis (17/10). Kantor Kejaksaan Tinggi Riau yang baru ini di resmikan secara langsung oleh Jaksa Agung

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply